Operasi Cabut Paku: Tindakan Nyata Lestarikan Alam

Salam lestari, salam konservasi!

Kali ini Kelompok Studi MOLUSKA (Mahasiswa Biologi UNESA Konservator Alam) baru saja melaksanakan kegiatan ‘Operasi Cabut Paku’.

Apa itu Cabut Paku?

Cabut paku, salah satu program kerja KS MOLUSKA (Mahasiswa Biologi UNESA Konservator Alam) yang diselenggarakan di Desa Tawangsari, Kecamatan Taman, Sidoarjo pada Sabtu (7/9/2019) sekitar pukul 10.00-11.30 WIB. Kegiatan ini bertujuan menyelamatkan pohon-pohon di sepanjang jalan dari paku-paku yang ditancapkan oleh oknum tidak bertanggung jawab dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Kegiatan ini berlandaskan Anggaran Dasar Moluska BAB 2 pasal 3 ayat 1 dan Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 29 tahun 2018 tentang Perlindungan Pohon di Tepi Jalan. Harapan dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu membentuk karakter cinta lingkungan serta memaksimalkan fungsi pohon sebagai penghasil oksigen.

Bagaimana Cabut Paku berjalan?

Partisipan yang terbagi dalam 2 tim tidak hanya mencabuti paku saja, tetapi juga membersihkan sampah plastik yang berserakan di sepanjang jalan. Paku yang ditemukan kebanyakan sudah lama tertancap di pohon terlihat dari kondisi paku yang karatan dan susah untuk dicabut. Bukan hanya paku, klip berukuran besar pun kerap dijumpai. Paku-paku tersebut dulunya digunakan untuk menancapkan papan reklame, banner iklan jasa, banner promosi lembaga atau instansi dan juga banner caleg. Selain paku sampah plastik yang berserakan di pinggir sungai banyak dijumpai.

Mengapa Cabut Paku dilakukan?

Benda asing yang masuk ke tubuh tanaman dapat mengakibatkan luka terbuka atau pun perantara masuknya hama dan penyakit. Paku bersifat toksik terhadap pohon jika berlebihan. Luka yang diakibatkan oleh paku pada batang dapat mengakibatkan penyakit kanker atau pertumbuhan sel yang tidak normal. Paku dapat menghambat translokasi air dan unsur hara dari akar menuju daun melalui xilem pada batang serta menghambat distribusi fotosintat dari daun melalui floem pada batang ke bagian tubuh tanaman lainnya. Jadi, jika bukan kita yang ‘menghilangkan’ toksik tersebut lalu siapa lagi? Karena pohon juga berhak untuk hidup tanpa terganggu oleh ‘toksik’ yang diakibatkan oleh ulah manusia tidak bertanggung jawab.

 “A tree is no more valuable than a seed. Both are simply at a different stage” -J.R. Rim –

Leave a Comment